PEMBAHASAN
- Pengertian Kebutuhan Psikososial:
Manusia adalah makhluk biopsikososial yang
unik dan menerapkan system terbuka serta saling berinteraksi. Manusia selaulu
berusaha untuk mempertahankan keseimbangan hidupnya. Keseimbangan yang
dipertahankan oleh setiap individu untuk dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungannya serta manusia dapat beraktivitas dan memiliki gangguan atau
masalah dalam sistem organ pada dirinya, keadaan ini disebut dengan sehat.
Sedangkan seseorang dikatakan sakit apabila gagal dalam mempertahankan
keseimbangan diri dan lingkungannya serta tidak dapat melakukan aktivitas dan
dalam keadaan gangguan atau masalah dalam sistem organ manusia itu sendiri .
Sebagai makhluk social, untuk mencapai kepuasan dalam kehidupan, mereka harus membina
hubungan interpersonal positif. Maka dari itu manusia saling membutuhkan antara
manusia satu dengan yang lain sehingga mereka dapat membangun kebutuhan
psikososial secara bersama untuk
mencapai hidup sehat.
- Status Emosi
Setiap individu mempunyai kebutuhan emosi
dasar, termasuk kebutuhan akan cinta, kepercayaan, otonomi, identitas, harga
diri, penghargaan dan rasa aman. Schultz (1966) Merangkum kebutuhan tersebut
sebagai kebutuhan interpersonal untuk inklusi, control dan afeksi. Bila kebutuhan
tersebut tidak terpenuhi, akibatnya dapat berupa perasaan atau perilaku yang
tidak diharapkan, seperti ansietas, kemarahan, kesepian dan rasa tidak pasti.
Kebutuhan
interpersonal akan inklusi, control dan afeksi kadang saling tumpang tindih dan
berkesinambungan.
Kebutuhan
akan inklusi :
Merupakan
kebutuhan untuk menetapkan dan memelihara hubungan yang memuaskan dengan orang.
Dalam lingkungan perawatan kesehatan, kebutuhan inklusi dapat dipenuhi dengan
memberi informasi dan menjawab semua pertanyaan, menjelaskan tanggung jawab
perawat dalm memberi perawatan dan mengenali kebutuhan serta kesukaan pasien.
Kebutuhan
akan kontrol :
Berhubungan
dengan kebutuhan untuk menentukan dan memelihara hubungan yang memuaskan dengan
orang lain dengan memperhatikan kekuasaan, pembuatan keputusan dan otoritas.
Kebutuhan Afeksi :
Seseorang
membangun hubungan saling memberi dan saling menerima berdasarkan saling menyukai. Afeksi
diungkapkan dengan kata-kata cinta, suka, akrab secara emosional, pribadi,
sahabat, dan intimasi.
Rentang
Respon Emosional :
Respons
Adaptif
Respons Maladaptif
Kepekaan
emosional
Reaksi
berduka takterkomplikasi
Supresi
emosi
Penundaan
reaksi berduka
Depresi/mania
Pengertian:
a.
Kepekaan emosional
kepekaan
emosional adalah Respons emosional termasuk dipengaruhi oleh dan berperan aktif
dalam dunia internal dan eksternal sesorang. Tersirat bahwa orang tersebut
terbuka dan sadar akan perasaannya sendiri.
b. Reaksi berduka takterkomplikasi
Terjadi
sebagai respons terhadap kehilangan dan tersirat bahwa seseorang sedang
menghadapi suatu kehilngan yang nyata serta terbenam dalam proses berdukanya.
c. Supresi emosi
Mungkin
tampak sebagai penyangkalan (denial) terhadap perasaan sendiri, pelepasan dari
keterikatan dengan emosi atau penalaran terhadap semua aspek dari dunia afektif
seseorang.
d. Penundaan reaksi berkabung
Ketidakadaan
yang persisten respons emosional terhadap kehilangan. Ini dapat terjadi pada
awal proses berkabung dan menjadi nyata pada kemunduran proses, mulai terjadi
atau keduanya. Penundaan dan penolakan proses berduka kadang terjadi
bertahun-tahun.
e. Depresi atau melankolia
Suatu
kesedihan atau perasaan berduka berkepanjangan. Dapat digunakan untuk
menunjukkan berbagai fenomena, tanda, gejala, sindrom, keadaan emosional,
reaksi, penyakit atau klinik.
f. Mania
Ditandai
dengan elevasi alam perasaan berkepanjangan dan mudah tersinggung.
- KONSEP DIRI
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui
individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan
orang lain (Stuart dan Sudeen, 1998). Hal ini temasuk persepsi individu akan
sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai
yang berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan serta keinginannya.
Sedangkan menurut Beck, Willian dan Rawlin (1986) menyatakan bahwa konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, baik fisikal, emosional intelektual , sosial dan spiritual.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSEP DIRI :
Sedangkan menurut Beck, Willian dan Rawlin (1986) menyatakan bahwa konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, baik fisikal, emosional intelektual , sosial dan spiritual.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSEP DIRI :
Menurut Stuart dan Sudeen ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri. Faktor-foktor tersebut terdiri dari teori perkembangan, Significant Other (orang yang terpenting atau yang terdekat) dan Self Perception (persepsi diri sendiri).
1. Teori perkembangan.
Konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian berkembang secara bertahap sejak lahir seperti mulai mengenal dan membedakan dirinya dan orang lain. Dalam melakukan kegiatannya memiliki batasan diri yang terpisah dari lingkungan dan berkembang melalui kegiatan eksplorasi lingkungan melalui bahasa, pengalaman atau pengenalan tubuh, nama panggilan, pangalaman budaya dan hubungan interpersonal, kemampuan pada area tertentu yang dinilai oleh diri sendiri atau masyarakat serta aktualisasi diri dengan merealisasi potensi yang nyata.
2. Significant Other ( orang yang terpenting atau yang terdekat )
Dimana konsep diri dipelajari melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain, belajar diri sendiri melalui cermin orang lain yaitu dengan cara pandangan diri merupakan interprestasi diri pandangan orang lain terhadap diri, anak sangat dipengaruhi orang yang dekat, remaja dipengaruhi oleh orang lain yang dekat dengan dirinya, pengaruh orang dekat atau orang penting sepanjang siklus hidup, pengaruh budaya dan sosialisasi.
3. Self Perception ( persepsi diri sendiri )
Yaitu persepsi individu terhadap diri sendiri dan penilaiannya, serta persepsi individu terhadap pengalamannya akan situasi tertentu. Konsep diri dapat dibentuk melalui pandangan diri dan pengalaman yang positif. Sehingga konsep merupakan aspek yang kritikal dan dasar dari prilaku individu. Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang dapat berfungsi lebih efektif yang dapat dilihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan. Sedangkan konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hubungan individu dan sosial yang terganggu.
Menurut Stuart dan Sundeen Penilaian tentang konsep diri dapat di lihat berdasarkan rentang rentang respon konsep diri yaitu:
- Respon Adaptif Respon Maladaptif
Aktualisasi Konsep diri Harga diri Kekacauan Depersonalisasi diri
positif rendah identitas
PEMBAGIAN KONSEP DIRI
Konsep diri terbagi menjadi beberapa bagian. Pembagian Konsep diri tersebut di kemukakan oleh Stuart and Sundeen ( 1991 ), yang terdiri dari :
1. Gambaran diri ( Body Image )
Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman baru setiap individu (Stuart and Sundeen , 1991).
Sejak lahir individu mengeksplorasi bagian tubuhnya, menerima stimulus dari orang lain, kemudian mulai memanipulasi lingkungan dan mulai sadar dirinya terpisah dari lingkungan ( Keliat ,1992 ).
Gambaran diri ( Body Image ) berhubungan dengan kepribadian. Cara individu memandang dirinya mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologinya. Pandangan yang realistis terhadap dirinya manarima dan mengukur bagian tubuhnya akan lebih rasa aman, sehingga terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri (Keliat, 1992). Individu yang stabil, realistis dan konsisten terhadap gambaran dirinya akan memperlihatkan kemampuan yang mantap terhadap realisasi yang akan memacu sukses dalam kehidupan. Banyak Faktor dapat yang mempengaruhi gambaran diri seseorang, seperti, munculnya Stresor yang dapat menggangu integrasi gambaran diri. Stresor-stresor tersebut dapat berupa :
1. Operasi.
Seperti : mastektomi, amputsi ,luka operasi yang semuanya mengubah gambaran diri. Demikian pula tindakan koreksi seperti operasi plastik, protesa dan lain –lain.
2. Kegagalan fungsi tubuh.
Seperti hemiplegi, buta, tuli dapat mengakibatkan depersonlisasi yaitu tadak mengkui atau asing dengan bagian tubuh, sering berkaitan dengan fungsi saraf.
3. Waham yang berkaitan dengan bentuk dan fngsi tubuh
Seperti sering terjadi pada klie gangguan jiwa , klien mempersiapkan penampilan dan pergerakan tubuh sangat berbeda dengan kenyataan.
4. Tergantung pada mesin.
Seperti : klien intensif care yang memandang imobilisasi sebagai tantangan, akibatnya sukar mendapatkan informasi umpan balik engan penggunaan lntensif care dipandang sebagai gangguan.
5. Perubahan tubuh berkaitan
Hal ini berkaitan dengan tumbuh kembang dimana seseorang akan merasakan perubahan pada dirinya seiring dengan bertambahnya usia.
Tidak jarang seseorang menanggapinya dengan respon negatif dan positif. Ketidakpuasan juga dirasakan seseorang jika didapati perubahan tubuh yang tidak ideal.
6. Umpan balik interpersonal yang negatif
Umpan balik ini adanya tanggapan yang tidak baik berupa celaan, makian sehingga dapat membuat seseorang menarik diri.
7. Standard sosial budaya.
Hal ini berkaitan dengan kultur sosial budaya yang berbeda-setiap pada setiap orang dan keterbatasannya serta keterbelakangan dari budaya tersebut menyebabkan pengaruh pada gambaran diri individu, seperti adanya perasaan minder.
Beberapa gangguan pada gambaran diri tersebut dapat menunjukan tanda dan gejala, seperti :
1. Syok Psikologis.
Syok Psikologis merupakan reaksi emosional terhadap dampak perubahan dan dapat terjadi pada saat pertama tindakan.syok psikologis digunakan sebagai reaksi terhadap ansietas. Informasi yang terlalu banyak dan kenyataan perubahan tubuh membuat klien menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti mengingkari, menolak dan proyeksi untuk mempertahankan keseimbangan diri.
2. Menarik diri.
Klien menjadi sadar akan kenyataan, ingin lari dari kenyataan , tetapi karena tidak mungkin maka klien lari atau menghindar secara emosional. Klien menjadi pasif, tergantung , tidak ada motivasi dan keinginan untuk berperan dalam perawatannya.
3. Penerimaan atau pengakuan secara bertahap.
Setelah klien sadar akan kenyataan maka respon kehilangan atau berduka muncul. Setelah fase ini klien mulai melakukan reintegrasi dengan gambaran diri yang baru.
Tanda dan gejala dari gangguan gambaran diri di atas adalah proses yang adaptif, jika tampak gejala dan tanda-tanda berikut secara menetap maka respon klien dianggap maladaptif sehingga terjadi gangguan gambaran diri yaitu :
1. Menolak untuk melihat dan menyentuh bagian yang berubah.
2. Tidak dapat menerima perubahan struktur dan fungsi tubuh.
3. Mengurangi kontak sosial sehingga terjadi menarik diri.
4. Perasaan atau pandangan negatif terhadap tubuh.
5. Preokupasi dengan bagian tubuh atau fungsi tubuh yang hilang.
6. Mengungkapkan keputusasaan.
7. Mengungkapkan ketakutan ditolak.
8. Depersonalisasi.
9. Menolak penjelasan tentang perubahan tubuh.
2. Ideal Diri.
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku berdasarkan standart, aspirasi, tujuan atau penilaian personal tertentu (Stuart and Sundeen ,1991).
Standart dapat berhubungan dengan tipe orang yang akan diinginkan atau sejumlah aspirasi, cita-cita, nilai- nilai yang ingin di capai . Ideal diri akan mewujudkan cita-cita, nilai-nilai yang ingin dicapai. Ideal diri akan mewujudkan cita–cita dan harapan pribadi berdasarkan norma sosial (keluarga budaya) dan kepada siapa ingin dilakukan. Ideal diri mulai berkembang pada masa kanak–kanak yang di pengaruhi orang yang penting pada dirinya yang memberikan keuntungan dan harapan pada masa remaja ideal diri akan di bentuk melalui proses identifikasi pada orang tua, guru dan teman.
Menurut Ana Keliat ( 1998 ) ada beberapa faktor yang mempengaruhi ideal diri yaitu :
1. Kecenderungan individu menetapkan ideal pada batas kemampuannya.
2. Faktor budaya akan mempengaruhi individu menetapkan ideal diri.
3. Ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil, kebutuhan yang realistis, keinginan untuk mengklaim diri dari kegagalan, perasan cemas dan rendah diri.
4. Kebutuhan yang realistis.
5. Keinginan untuk menghindari kegagalan .
6. Perasaan cemas dan rendah diri.
Agar individu mampu berfungsi dan mendemonstrasikan kecocokan antara persepsi diri dan ideal diri. Ideal diri ini hendaknya ditetapkan tidak terlalu tinggi, tetapi masih lebih tinggi dari kemampuan agar tetap menjadi pendorong dan masih dapat dicapai (Keliat, 1992 ).
3. Harga diri .
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri (Stuart and Sundeen,1991). Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri yang tinggi. Jika individu sering gagal , maka cenderung harga diri rendah. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Aspek utama adalah di cintai dan menerima penghargaan dari orang lain (Keliat, 1992). Biasanya harga diri sangat rentan terganggu pada saat remaja dan usia lanjut. Dari hasil riset ditemukan bahwa masalah kesehatan fisik mengakibatkan harga diri rendah. Harga diri tinggi terkait dengam ansietas yang rendah, efektif dalam kelompok dan diterima oleh orang lain. Sedangkan harga diri rendah terkait dengan hubungan interpersonal yang buruk dan resiko terjadi depresi dan skizofrenia. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Harga diri rendah dapat terjadi secara situasional ( trauma ) atau kronis ( negatif self evaluasi yang telah berlangsung lama ). Dan dapat di ekspresikan secara langsung atau tidak langsung (nyata atau tidak nyata). Menurut beberapa ahli dikemukakan faktor-Fator yang mempengaruhi gangguan harga diri, seperti :
1. Perkembangan individu.
Faktor predisposisi dapat dimulai sejak masih bayi, seperti penolakan orang tua menyebabkan anak merasa tidak dicintai dan mengkibatkan anak gagal mencintai dirinya dan akan gagal untuk mencintai orang lain. Pada saat anak berkembang lebih besar, anak mengalami kurangnya pengakuan dan pujian dari orang tua dan orang yang dekat atau penting baginya. Ia merasa tidak adekuat karena selalu tidak dipercaya untuk mandiri, memutuskan sendiri akan bertanggung jawab terhadap prilakunya. Sikap orang tua yang terlalu mengatur dan mengontrol, membuat anak merasa tidak berguna.
2. Ideal Diri tidak realistis.
Individu yang selalu dituntut untuk berhasil akan merasa tidak punya hak untuk gagal dan berbuat kesalahan. Ia membuat standart yang tidak dapat dicapai, seperti cita –cita yang terlalu tinggi dan tidak realistis. Yang pada kenyataan tidak dapat dicapai membuat individu menghukum diri sendiri dan akhirnya percaya diri akan hilang.
3. Gangguan fisik dan mental
Gangguan ini dapat membuat individu dan keluarga merasa rendah diri.
4. Sistim keluarga yang tidak berfungsi.
Orang tua yang mempunyai harga diri yang rendah tidak mampu membangun harga diri anak dengan baik. Orang tua memberi umpan balik yang negatif dan berulang-ulang akan merusak harga diri anak. Harga diri anak akan terganggu jika kemampuan menyelesaikan masalah tidak adekuat. Akhirnya anak memandang negatif terhadap pengalaman dan kemampuan di lingkungannya.
5. Pengalaman traumatik yang berulang,misalnya akibat aniaya fisik, emosi dan seksual.
Penganiayaan yang dialami dapat berupa penganiayaan fisik, emosi, peperangan, bencana alam, kecelakan atau perampokan. Individu merasa tidak mampu mengontrol lingkungan. Respon atau strategi untuk menghadapi trauma umumnya mengingkari trauma, mengubah arti trauma, respon yang biasa efektif terganggu. Akibatnya koping yang biasa berkembang adalah depresi dan denial pada trauma.
4. Peran.
Peran adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat ( Keliat, 1992 ). Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak punya pilihan, sedangkan peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu. Posisi dibutuhkan oleh individu sebagai aktualisasi diri. Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal diri. Posisi di masyarakat dapat merupakan stresor terhadap peran karena struktur sosial yang menimbulkan kesukaran, tuntutan serta posisi yang tidak mungkin dilaksanakan ( Keliat, 1992 ). Stress peran terdiri dari konflik peran yang tidak jelas dan peran yang tidak sesuai atau peran yang terlalu banyak.
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menyesuaikan diri dengan peran yang harus di lakukan menurut Stuart and sundeen, 1998 adalah :
1. Kejelasan prilaku dengan penghargaan yang sesuai dengan peran.
2. Konsisten respon orang yang berarti terhadap peran yang dilakukan .
3. Kesesuain dan keseimbangan antara peran yang di emban.
4. Keselarasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku peran.
5. Pemisahan situasi yang akan menciptakan ketidak sesuain perilaku peran.
Menurut Stuart and Sunden Penyesuaian individu terhadap perannya di pengaruhi oleh beberapan faktor, yaitu :
1. Kejelasan prilaku yang sesuai dengan perannya serta pengetahuan yang spesifik tentang peran yang diharapkan.
2. Konsistensi respon orang yang berarti atau dekat dengan peranannya.
3. Kejelasan budaya dan harapannya terhadap prilaku perannya.
4. Pemisahan situasi yang dapat menciptakan ketidak selarasan Sepanjang kehidupan individu sering menghadapi perubahan-perubahan peran, baik yang sifatnya menetap atau sementara yang sifatnya dapat karena situasional. Hal ini, biasanya disebut dengan transisi peran. Transisi peran tersebut dapat di kategorikan menjadi beberapa bagian, seperti :
1. Transisi Perkembangan.
2. Transisi Situasi.
Transisi situasi terjadi sepanjang daur kehidupan, bertambah atau berkurang orang yang berarti melalui kelahiran atau kematian, misalnya status sendiri menjadi berdua atau menjadi orang tua. Perubahan status menyebabkan perubahan peran yang dapat menimbulkan ketegangan peran yaitu konflik peran, peran tidak jelas atau peran berlebihan.
3. Transisi sehat sakit.
Stresor pada tubuh dapat menyebabkan gangguan gambaran diri dan berakibat diri dan berakibat perubahan konsep diri. Perubahan tubuh dapat mempengaruhi semua kompoen konsep diri yaitu gambaran diri, identitas diri peran dan harga diri.
Masalah konsep diri dapat di cetuskan oleh faktor psikologis, sosiologi atau fisiologi, namun yang penting adalah persepsi klien terhadap ancaman. Selain itu dapat saja terjadi berbagai gangguan peran, penyebab atau faktor-faktor ganguan peran tersebut dapat di akibatkan oleh :
1. Konflik peran interpersonal Individu dan lingkungan tidak mempunyai harapan peran yang selaras.
2. Contoh peran yang tidak adekuat.
3. Kehilangan hubungan yang penting
4. Perubahan peran seksual
5. Keragu-raguan peran
6. Perubahan kemampuan fisik untuk menampilkan peran sehubungan dengan proses menua
7. Kurangnya kejelasan peran atau pengertian tentang peran
8. Ketergantungan obat
9. Kurangnya keterampilan sosial
10. Perbedaan budaya
11. Harga diri rendah
12. Konflik antar peran yang sekaligus di perankan
Gangguan-gangguan peran yang terjadi tersebut dapat ditandai dengan tanda dan gejala, seperti :
1. Mengungkapkan ketidakpuasan perannya atau kemampuan menampilkan peran
2. Mengingkari atau menghindari peran
3. Kegagalan trnsisi peran
4. Ketegangan peran
5. Kemunduran pola tanggungjawab yang biasa dalam peran
6. Proses berkabung yang tidak berfungsi
7. Kejenuhan pekerjaan
5. Identitas
Identitas adalah kesadarn akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sendiri sebagai satu kesatuan yang utuh (Stuart and Sudeen, 1991).
Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat akan yang memandang dirinya berbeda dengan orang lain. Kemandirian timbul dari perasaan berharga (aspek diri sendiri), kemampuan dan penyesuaian diri. Seseorang yang mandiri dapat mengatur dan menerima dirinya. Identitas diri terus berkembang sejak masa kanak-kanak bersamaan dengan perkembangan konsep diri. Hal yang penting dalam identitas adalah jenis kelamin (Keliat,1992).
Identitas jenis kelamin berkembang sejak lahir secara bertahap dimulai dengan konsep laki-laki dan wanita banyak dipengaruhi oleh pandangan dan perlakuan masyarakat terhadap masing-masing jenis kelamin tersebut. Perasaan dan prilaku yang kuat akan indentitas diri individu dapat ditandai dengan:
a. Memandang dirinya secara unik
b. Merasakan dirinya berbeda dengan orang lain
c. Merasakan otonomi : menghargai diri, percaya diri, mampu diri, menerima diri
dan dapat mengontrol dirid. Mempunyai persepsi tentang gambaran diri, peran dan konsep diri
Karakteristik identitas diri dapat dimunculkan dari prilaku dan perasaan
seseorang, seperti :
1. Individu mengenal dirinya sebagai makhluk yang terpisah dan berbeda dengan orang lain
2. Individu mengakui atau menyadari jenis seksualnya
3. Individu mengakui dan menghargai berbagai aspek tentang dirinya, peran, nilai dan prilaku secara harmonis
4. Individu mengaku dan menghargai diri sendiri sesuai dengan penghargaan lingkungan sosialnya
5. Individu sadar akan hubungan masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang
6. Individu mempunyai tujuan yang dapat dicapai dan di realisasikan (Meler dikutip Stuart and Sudeen, 1991).
1. Individu mengenal dirinya sebagai makhluk yang terpisah dan berbeda dengan orang lain
2. Individu mengakui atau menyadari jenis seksualnya
3. Individu mengakui dan menghargai berbagai aspek tentang dirinya, peran, nilai dan prilaku secara harmonis
4. Individu mengaku dan menghargai diri sendiri sesuai dengan penghargaan lingkungan sosialnya
5. Individu sadar akan hubungan masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang
6. Individu mempunyai tujuan yang dapat dicapai dan di realisasikan (Meler dikutip Stuart and Sudeen, 1991).
- Harga diri
Pengertian Harga Diri (Self Esteem)
Stuart dan Sundeen (1991), mengatakan bahwa harga diri (self esteem) adalah penilaian individu terhadap
hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal
dirinya. Dapat diartikan bahwa harga diri menggambarkan sejauhmana individu
tersebut menilai dirinya sebagai orang yang memeiliki kemampuan, keberartian,
berharga, dan kompeten.
Sedangkan menurut Gilmore (dalam Akhmad Sudrajad) mengemukakan bahwa: “….self
esteem is a personal judgement of worthiness that is a personal that is
expressed in attitude the individual holds toward himself.
Pendapat ini menerangkan bahwa harga diri merupakan penilaian individu terhadap
kehormatan dirinya, yang diekspresikan melalui sikap terhadap dirinya.
Sementara itu, Buss (1973) memberikan pengertian harga diri (self esteem)
sebagai penilaian individu terhadap dirinya sendiri, yang sifatnya implisit dan
tidak diverbalisasikan.
Arti Harga Diri (Self Esteem)
Menurut pendapat beberapa ahli tersebut, maka
penulis dapat menyimpulkan bahwa harga diri (self esteem) adalah penilaian individu terhadap
kehormatan diri, melalui sikap terhadap dirinya sendiri yang sifatnya implisit
dan tidak diverbalisasikan dan menggambarkan sejauh mana individu tersebut
menilai dirinya sebagai orang yang memeiliki kemampuan, keberartian,
berharga, dan kompeten.
Salah satu komponen konsep
diri yaitu harga
diri dimana harga diri (self esteem) adalah penilaian individu tentang
pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal
diri (Keliat, 1999). Sedangkan harga diri rendah adalah menolak
dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan tidak bertanggungjawab atas kehidupannya
sendiri.
Jika individu
sering gagal maka cenderung harga diri rendah. Harga diri rendah jika
kehilangan kasih sayang dan penghargaan orang lain. Harga diri diperoleh dari
diri sendiri dan orang lain, aspek utama adalah diterima dan menerima penghargaan
dari orang lain.
Gangguan harga diri rendah di gambarkan sebagai perasaan yang
negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri,
merasa gagal mencapai keinginan, mengkritik diri sendiri, penurunan
produktivitas, destruktif yang diarahkan pada orang lain, perasaan tidak mampu,
mudah tersinggung dan menarik diri secara sosial.
Orang tua dan guru memiliki tanggung jawab besar untuk
dapat memenuhi kebutuhan harga diri anak (siswanya), melalui pemberian kasih
sayang yang tulus sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara
wajar dan sehat, yang didalamnya terkandung perasaan harga diri yang
stabil dan mantap. Disinilah, tampak arti penting peran orang tua dan
guru sebagai fasiltator.
Akhmad Sudrajad mengatakan bahwa pentingnya pemenuhan
kebutuhan harga diri individu, khususnya pada kalangan remaja,
terkait erat dengan dampak negatif jika mereka tidak memiliki harga diri yang
mantap. Mereka akan mengalami kesulitan dalam menampilkan perilaku sosialnya,
merasa inferior dan canggung. Namun apabila kebutuhan harga diri mereka dapat
terpenuhi secara memadai, kemungkinan mereka akan memperoleh sukses dalam
menampilkan perilaku sosialnya, tampil dengan kayakinan diri (self-confidence)
dan merasa memiliki nilai dalam lingkungan sosialnya (Jordan et. al. 1979).
- Kebutuhan Dasar menurut Hierarki Maslow
1.
Aktualisasi diri
Kebutuhan aktualisasi
diri adalah tingkatan kebutuhan yang paling tinggi, untuk mencapai tingkat
kebutuhan aktualisasi diri ini banyak hambatan yang menghalanginya. Secara umum
hambatan tersebut di bagi 2 yaitu hambatan internal dan hambatan eksternal. Hambatan
internal dalah hambatan-hambatan yang berasal dari dalam diri seseorang, seperti
ketidaktahuan akan potensi diri serta perasaan ragu dan takut mengungkapkan
potensi diri, sehingga potensinya terus terpendam.sedangkan hambatan eksternal
adalah hambatan yang berasal dari luar diri seseorang, seperti budaya
masyarakat yang tidak mendukung upaya aktualisasi diri seseorang karena
perbedaan karakter. Aktualisasi diri juga merupakan kemampuan seseorang dan
otonominya sendiri serta bebas dari tekanan luar, yang meliputi :
·
Dapat
mengenal diri sendiri dengan baik (mengenal dan memahami potensi diri)
·
Belajar
memahami kebutuhan diri sendiri
·
Tidak
emosional
·
Memiliki
dedikasi yang tinggi
·
Kreatif
·
Memiliki
kepercayaan diri yang tinggi.
2.
Harga Diri
Harga diri
akan adalah penilaian individu tentang nilai personal yang di peroleh
dengan menganalisis seberapa baik perilaku seseorang sesuai dengan ideal
diri.menurut hierarki kebutuhan dasar manusia seseorang dapat mencapai
kebutuhan harga diri bila kebutuhan terhadap mencintai dan di cintai telah
terprnuhi. Pencapaian harga diri yang positif bergantung pada kemampuan
pemenuhan kebutuhan dasar yang lain. Contohnya kebutuhan harga diri tidak akan
tercapai optimal jika kebutuhan terhadap cinta dan keamanan tidak terpenuhi
selain itu harga diri juga dipengaruhi oleh perasaan ketergantungan dan
kemandirian. Harga diri akan menurun pada orang yang sedang sakit karena
mempunyai ketergantungan yang besar terhadap orang lain.sebaliknya harga diri
seseorang akan meningkat dengan kemandirian yang besar.
Kebutuhan harga diri juga berhubungan dengan keinginan terhadap
kekuatan, pencapaian, rasa cukup, kompetensi, rasa percaya diri, dan
kemerdekaan.Kebutuhan ini meliputi perasaan tidak bergantung pada orang lain,
kompeten, serta penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain.
3 Rasa cinta memiliki dan di miliki
Kebutuhan
cinta adalah kebutuhan dasar yang menggambarkan emosi seseorang. Kebutuhan ini
adalah suatu dorongan dimana seseorang berkeinginan untuk menjalin hubungan
yang bermakna secara efektif atau hubungan emosional dengan orang lain. Dorongan
ini akan semakin menekan seseorang sedemikian rupa, sehingga ia berupaya
semaksimal mungkin untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan akan cinta kasih dan
perasaan memiliki dan dimiliki oleh orang lain. Menggambarkan emosi
seseorang,meliputi :
1. Memberi dan menerima kasih sayang
2. Perasaan yang dimiliki dan hubungan yang berarti dengan orang lain.
3. Kehangatan
4. Persahabatan
5. Mendapat tempat atau di akui dalam keluarga,kelompok serta lingkungan sosial.
1. Memberi dan menerima kasih sayang
2. Perasaan yang dimiliki dan hubungan yang berarti dengan orang lain.
3. Kehangatan
4. Persahabatan
5. Mendapat tempat atau di akui dalam keluarga,kelompok serta lingkungan sosial.
- Kebutuhan keselamatan,kenyamanan dan rasa aman
Kebutuhan
akan keselamatan,kenyamanan dan keamanan adalah kebutuhan untuk melindungi diri
dari berbagai bahaya yang mengancam, baik terhadap fisik maupun
psikososial.ancaman terhadap keselamatan dan keamanan fisik seseorang dapat di
katagorikan ke dalam ancaman mekanik, kimia, termal dan bakteri. Oleh karena
itu manusia jika merasa terancam akan membuat suatu perlindungan dengan cara
mensterilkan diri dengan cara rajin memeriksakan diri ke dokter atau hidup
lebih bersih dengan keadaan lingkungan yang ada.
- Kebutuhan fisiologis
Kebutuhan
fisiologis merupakan kebutuhan yang sangat primer dan mutlak harus di penuhi
untuk memelihara hemeostatis biologis kelangsungan kehidupan bagi setiap
manusia kebutuhan ini merupakan syarat dasar, apabila kebetulan ini tidak dapat
terpenuhi maka dapat memengaruhi kebutuhan yang lain, sebagai contoh seseorang
yang mampu memenuhi kebutuhan oksigen dapat mengakibatkan dia tidak dapat untuk
memenuhi kebutuhan yang lain, misalnya makan,tidur dan beristirahat.
- Kebutuhan fisiologis meliputi :
1. kebutuhan
oksigen dan pertukaran gas
2. kebutuhan cairan dan elektrolit
3. kebutuhan makanan
4. kebutuhan eliminasi urin dan alvi
5. kebutuhan istirahat dan tidur
6. kebutuhan aktivitas
7. kebutuhan kesehatan temperatur tubuh
8. kebutuhan seksual
2. kebutuhan cairan dan elektrolit
3. kebutuhan makanan
4. kebutuhan eliminasi urin dan alvi
5. kebutuhan istirahat dan tidur
6. kebutuhan aktivitas
7. kebutuhan kesehatan temperatur tubuh
8. kebutuhan seksual
Tidak ada komentar:
Posting Komentar